Puluhan Warga Papua Bertemu Pelapor Khusus PBB

Lucky /Cepos

Seorang Mama dari Yahukimo mengalungkan Noken kepada Pelapor khusus Hak Atas Pangan PBB Hilar Elver, Jakarta (14/4) pekan kemarin.

Sampaikan  Berbagai Masalah Terkait Pangan  Lokal

JAKARTA – Ancaman tersisihnya pangan lokal di Papua yang kian nyata disebabkan sumber-sumber pangan local yang hilang akibat pembangunan, dan kepentingan-kepentingan investor di  Papua dengan berbagai permasalahannya, dikeluhkan dan dilaporkan oleh lebih dari 30 masyarakat Papua, mewakili 7 wilayah adat Papua, saat bertemu langsung dengan Pelapor khusus Hak Atas Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Hilar Elver di Jakarta, Sabtu (14/4) Kemarin.

Hilangnya hutan sagu, pembukaan lahan sawit, lahan perkebunan oleh pihak swasta, pembangunan yang tidak memperhatian pelestarian sumber-sumber pangan lokal,  tercemarnya laut dan  sungai dan kebijakan pemerintah yang kurang memberikan perhatian pada pangan lokal dikemukakan secara gamblang.

“ Hutan sagu kami hilang atas nama pembangunan, semua dibabat dan diganti dengan pembangunan jalan, perumahan, kantor, pusat bisnis dan perusahaan. Sekarang kami makin sulit mendapatkan sagu, danau kami juga mulai tercemar akibat limbah, sumber pangan lokal, ikan dan lainnya menajadi berkurang dan terancam, kami minta agar ibu pelapor khusus bidang pangan PBB mendorong agar pemeritan Indonesia memperhatikan masalah ini,” ujar Bapak Irenius mewaki masyarakat Adat Suku Sentani, dihadapan Hilar Ever.

Berturut-turut perwakilan dari 7 suku mengungkapkan berbagai persoalan yang dihadapi, seperti digantikannya Hipere ( betatas,red) dengan beras yang bukan merupakan makanan pokok masyarakat Papua, kawasan hutan manggorve tempat diperolehnya sumber makanan lokal yang hilang akibat pembangunan,  juga makanan-makanan kemasan, produk-produk luar yang menjadi acaman bagi pangan local yang makin dilupakan dan kurang adanya kebijakan khusus dari pemerintah untuk memproteksi pangan local untuk pemenuhan gizi bagi warga Papua.

Semua penyampaian laporan itu dicatat dan dicermati secara baik oleh Hilar Elver. Dirinya berjanji akan  menulis dalam laporan kunjungannya ke Indonesia.

Perempuan berkebangsaan Turki ini mencermari setiap laporan yang disampaikan. Dirinya juga berjanji   lewat mekanime resmi UN, akan menyampaikan kepada pemerintah Indonesia untuk memperhatikan laporan-laporan tersebut mencari solusi terbaik untuk menjawab berbagai persoalan yang diungkapkan oleh perwakilan masyarakat Papua tersebut.

“ Ada banyak permasalahan yang kami dengar tentang Papua, ada banyak laporan dari berbagai lembaga internasional dan LSM, juga dari pemerintah Indonesia yang sudah kami baca. Papua bukan tempat yang dilupakan, dengan mendengar langsung yang bapak dan ibu sampaikan, saya akan mendorong pemerintah Indonesia untuk benar-benar memperhartikan masalah-masalah ini, “ujarnya.

Dirinya mengaku, bisa hadir ke Indonesia  karena diundang, dan pemerintah Indonesia melihat ada dampak positif dengan adanya kunjungan seperti ini, sehingga dirinya yakin, laporan yang ia terima tentang  Papua, akan menjadi masukan penting yang akan disampaikan  ke pemerintah Indonesia.

“ Keluhan orang Papua soal pangan saya sudah dengar, dan ini menjadi keprihatinan. Pemerintah Indonesia yang berwenang menjawabnya. Sebagai pelapor khsusus dari PBB, dalam kapasitas saya, akan menyampaikan lewat mekanisme yang ada. Tetapi yang penting, harus ada komunikasi yang baik dan terbuka  antara orang Papua dan Pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Solusi harus diperoleh dan dijalankan, agar kebutuhan akan ketersediaan pangan local, mengatasi gizi buruk dan tersediannya sumberdaya yang cukup dapat diperoleh oleh orang Papua dan masyarakat Indonesia secara umum,” paparnya.

Pertemuan dan dengar pendapat itu diakhiri dengan pemberian Cindera mata berupa Noken oleh seorang mama dari Yahukimo kepada Ms. Elver dan tim dari PBB.

Hilal Elver  sendiri, melakukan kunjungan  ke Indonesia dari 9-18 April. Tujuan kedatangannya ke Indonesia untuk mengumpulkan informasi dari tangan pertama mengenai kebijakan pangan dan pertanian Indonesia yang mempengaruhi kehidupan masayrakat.

Tujuan kunjungan ini juga untuk berdialog secara konstruktif dengan para pemangku kepentingan yang relevan, untuk mengidentivikasi perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan dan tantangan yang ada serta untuk mengusulkan berbagai rekomendasi kepada pemeritah dan pihak-pihak lainnya. (luc)

 

Tinggalkan Balasan