Liga I 2018: Persipura Masih di Puncak, Perseru Naik ke Papan Tengah

Logo 18 klub peserta Liga I 2018 (Foto: bola.com/SP).

SEMARANG, SUARAPAPUA.Com — Dua klub sepakbola asal tanah Papua peserta kompetisi sepakbola kasta tertinggi Indonesia cukup membanggakan. Pasalnya, tanah Papua telah dikenal di Indonesia sebagai yang tersubur dalam hal melahirkan pemain berbakat.

Dua klub tersebut adalah Persipura Jayapura dan Perseru Serui. Nasib mereka berbeda. Persipura pimpin klasemen di urutan teratas, Perseru berhasil naik ke papan tengah, peringkat ke-13, setelah menumbangkan PSIS Semarang di Stadion Marora Serui sore ini, Minggu (29/04/2018).

Walau masih di pekan ke-6 dan di depan masih ada 28 pekan, kekuatan masing-masing tim mulai dapat dibaca. Persipura sekali kalah, tiga kali menang dan dua kali imbang. Perseru menang dua kali, sekali seri dan tiga kali kalah.

Bila diamati, Perseru Serui dan Persipura sama-sama mengalami perombakan komposisi pemain dalam menghadapi musim ini.

Perseru mulai mengandalkan pemain muda asli Papua dan mendatangkan para pesepak bola Papua yang selama ini merantau di klub-klub lain di luar. Sebut saja Fakdawer dan Yohanis Nabar yang kini menjadi kekuatan baru Cendrawasih Jingga. Sementara itu, beberapa bintang muda yang jadi andalan mereka ada Boaz Isir dan Delvin Rumbino, dan merekrut mantan jebolan Persipura, seperti Jaelani Arey Sibi dan Lukas Mandowen.

Kelemahan perseru dari para komentator yang mengawal jalannya enam pertandingan yang telah berlalu adalah kurang menonjolnya sosok playmaker yang dapat dengan lihai menyuguhkan umpan-umpan matang. Karena Perseru sebenarnya punya striker yang haus gol.

Dalam situasi yang seperti itu, Perseru harus memaksimalkan setiap laga kandang mereka. Keangkeran Stadion Marora harus dijaga. Namun bila dievaluasi, laga tandang Perseru tidak buruk, Perseru termasuk tim yang solid dalam bertahan dan menguasai lapangan tengah baik kandang maupun tandang.

Pelatih I Putu Gede Dwi Susanto hanya perlu satu playmaker tangguh di lini tengah yang akan membantu penyerangan dan Perseru bisa bangkit membuktikan kehebatannya.

Sementara itu Persipura Jayapura telah diketahui mengawali persiapan dengan kewalahan akibat krisis finansial yang berdampak pada para pemainnya yang pergi ke klub-klub lain. Lebih dari sembilan pemain yang hengkang.

Sebagai gantinya, Persipura menyeleksi dan mengambil pemain muda berusia 17-20 tahun. Mereka adalah Rivaldo Vere, Alfian Sanyi, Kevien Rumakiek, Gunansar Mandowen, Marcel Kararbo, Papua Komboy dan beberapa pemain untuk magang. Para pemain muda ini akan berkolaborasi dengan beberapa pemain muda angkatan sebelumnya seperti Frisca Womsiwor dan Elisa Basna.

Pemain senior yang masih bersama Mutiara Hitam hanya Ricardo Salampesy, Anis Tjoe, Andri Ibo, Yustinus Paew, Ian Kabes, Immanuel Wanggai dan Boaz Salossa. Mereka membentuk kerangka tim bersama Marcel Sacramento, Hilton Moreira dan Abdoulaye Maiga.

Kelemahan Persipura ada dua. Pertama, sebagian besar pemain muda mereka baru saja merasakan atmosfer pertandaingan liga 1. Sementara deretan pemain senior mereka sangat rentan cedera karena faktor usia dan kebugaran. Nyaris sedikit saja dari komposisi yang ada di kubu Mutiara Hitam yang dapat dipercaya akan mempertahankan performanya hingga kompetisi liga I usai.

Persipura harus terus memaksimalkan pemain muda mereka, karena para pemain senior tidak bisa diandalkan untuk konsiten. Resiko ini disadari dan diambil pelatih Peter Butler dengan terus memainkan lebih dari empat pemain mudanya dalam tiap pertandingan baik kandang maupun tandang. Hal ini terlihat tidak positif bila diukur dari pencapaian hasil untuk musim ini, tetapi untuk pembentukan tim dan regenerasi demi membentuk kerangka tim yang baru, Peter Bulter patut diacungi jempol oleh segenap penggemar Mutiara Hitam.

Lalu bagaimanakah sepak terjang para pemain Papua di luar Papua?

Musim ini boleh dibilang sebagai musim kebangkitan para pemain Papua di gelaran pesta sepakbola kasta tertinggi. Pasalnya, mereka sudah tersebar dan mulai menjadi andalan di tim yang mereka perkuat.

Marko Sandi Meraudje misalnya, tak tergantikan di posisi belakang tim sekelas Sriwijaya FC dan tampil konsisten tiap laga. Disana ada Nur Hidayat dan Patrich Wanggai, yang masih belum menembus strarting eleven.

Di Persija Jakarta, ada dua anak Papua. Mereka adalah Yan Pieter Nasadit dan Septinus Alua. Mereka bergabung di musim ini dan masih belum mendapatkan kepercayaan pelatih untuk tampil membuktikan diri. Sementara di Borneo FC ada Titus Bonay yang kini mulai menjadi bomber haus gol.

Engelbert Sani masih menjadi kepercayaan pelatih Milomir Seslija di Madura United. Di Bhayangkara FC ada nama Vendry Mofu yang di musim lalu bermain untuk Semen Padang FC dan Marinus Manewar yang pernah jadi striker Persipura Jayapura musim lalu. Sementara di kubu Barito Putera, anak Papua lainnya, Ronny Baroperay, menjadi andalan klub untuk mengawal lini belakang.

Persebaya Surabaya bisa dianggap menjadi salah satu klub sepakbola yang meminati pemain Papua. Pasalnya, manajemen telah merekrut tujuh pemain Papua sekaligus untuk musim ini. Mereka adalah Fandy Imbiri, Ricky Kayame, Nelson Alom, Iszac Wanggai, Ruben Karel Sanadi, Very Pahabol dan Osvaldo Haay.

Dua putra Papua lainnya mulai bermain di Liga I Thailand. Mereka adalah Yanto Basna dan Terrens Puhiri.

Yanto Basna, pemain terbaik Piala Jendral Soedirman 2015 saat bermain untuk Persib Bandung dan langganan Timnas Indonesia itu kini bermain di Khon Kaen FC dan menjadi salah satu pemain kunci yang tak tergantikan di sana. Sementara itu, Terrens Puhiri, pemain mungil yang mengejutkan dunia dengan aksi solo run saat menjadi andalan Borneo FC musim lalu itu kini membela Port FC. Namun pemain yang diberi gelar pemain tercepat kedua di dunia karena aksinya itu jarang diturunkan akibat postur.

Pewarta: Bastian Tebai

The post Liga I 2018: Persipura Masih di Puncak, Perseru Naik ke Papan Tengah appeared first on Suara Papua.

Tinggalkan Balasan