Tongoi Papua Harus Jadi Pagar dan Pintu PTFI

EVP HP PT Freeport Indonesia (PTFI), Silas Natkime- (Silas Natkime paling kanan). 

SAPA (TIMIKA) -  VP.St.Advisor (Papuan Devp), EVP HP PT Freeport Indonesia (PTFI), Silas Natkime mengatakan, semua karyawan asli Papua di PTFI yang bergabung dalam Organisasi Tongoi Papua harus menjadi pagar dan pintu dalam menjaga serta berpartisipasi dalam pengembangan serta menjadi fondasi  PTFI. Karena PTFI merupakan sumber air kehidupan bagi masyarakat Papua  dan warga lain dari seluruh Indonesia.

“Tongoi tidak dibentuk asal-asalan demi kepentingan segelintir orang saja, tetapi bertujuan mempersatukan semua karyawan Papua untuk mendukung penuh PTFI agar tetap berdiri dan beroperasi di Tanah Papua. PTFI ini kita punya sumber air, karena itu kalau bukan kita yang menjaga, terus siapa lagi?,” ungkap Silas dalam sambutannya pada pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) Tongoi Papua ke VII di Gedung Multy Purpose, Kuala Kencana, hari kedua, Selasa (12/6).

Silas mengatakan, Tongoi Papua dibentuk untuk menghentikan selisih pendapat yang diakibatkan adanya pendirian organisasi-organisasi yang hanya mengutamakan egoisme  semata. Karena itu, ia meminta agar Tongoi Papua harus selalu ada dan dipimpin oleh individu-individu yang memiliki tanggung jawab, berani bertindak, bisa mengayomi serta tidak mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

“Tongoi Papua harus mengikat satu kekuatan dengan menjalin koordinasi agar tidak menjadi penonton di atas tanah sendiri. Sejak awal berdiri , PTFI telah memberikan banyak manfaat untuk pendidikan, kesehatan, perumahan dan  kesejahteraan masyarakat Papua, termasuk semua karyawannya. Karena itu mari kita sama-sama menjadi pagar dan pintu untuk mempertahankan PTFI,” katanya.

Di tempat yang sama Director EVP, Human Resources dan Security PTFI, Ahmad Didi Arianto mengatakan, Tongoi Papua harus menjadi organisasi yang terbentuk karena kecintaan terhadap PTFI yang merupakan sumber mata air. Dalam hal ini, semua karyawan khususnya yang berhimpun dalam Tongoi Papua harus menjadi pagar untuk melindungi mata air tersebut serta menjadi pipa-pipa dalam menyambungkan aliran air kepada semua warga Papua.

“Saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Silas Natkime di atas, karena memang sudah 50 tahun PTFI telah memberikan dampak yang luar biasa kepada pembangunan di Mimika dan Papua. Karena itu, saya percaya dan yakin dengan Tongoi Papua akan selalu menjadi fondasi, pagar dan pintu yang kuat untuk PTFI,” kata Didi.

Ia mengaku, meki banyak yang telah diberikan dari PTFI, tetapi hal tersebut belum cukup. Sebab, dalam perjuangan sama sekali tidak mengenal kata cukup, tetapi harus ada penambahan. Dengan demikian, untuk bisa mewujudkan  penambahan secara terus menerus tersebut, dikembalikan kepada setiap individu melalui rasa sabar dan syukur. 

“Tuhan mengatakan bahwa apabila kamu mensyukuri setiap pemberian yang Aku berikan kepadamu, maka Aku akan terus menambah. Saya sering mendengar Pendeta mengatakan bahwa apabila kamu berbuat baik kepada Tanah Papua, maka Tuhan akan memberikan  tanda heran berlipat ganda,” ungkapnya.

Selanjutnya Didi mengatakan, dalam  pengoperasiannya  selama 50 tahun, PTFI telah melewati tantangan demi tantangan. Dengan demikian, sejak tahun 1993 bermunculan berbagai organisasi dan akhirnya muncul Tongoi Papua.

Karena itu Tongoi Papua diharapkan harus selalu siap dan mampu menyambut berbagai bentuk perubahan yang kelak akan terjadi dalam kelanjutan pengoperasian PTFI.

“Dimana, kemampuan kita dalam menghadapi perubahan itu bukan dengan memandang perubahan itu sebagai ancaman atau hal yang akan melemahkan kita, tetapi dengan cara sebagai kesempatan untuk kita terus berjuang menuju perubahan yang lebih baik,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Didi juga mengungkap beberapa fakta yang akan dihadapi bersama di PTFI diantaranya, PTFI akan berproduksi hanya sebesar kurang lebih 60 persen dari kapastias normal, karena sistim pengoperasian akan berubah dari Open Pit ke Underground. Dimana, kecepatan kita untuk beroperasi akan terbatas, karena masalah teknis serta berbagai pengalihan pola lama ke pola yang baru.

“Perubahan-perubahan itu menuntut kita untuk mempertahankan produksifitas dengan cara mentransformasi mental dan cara kerja kita, meningkatkan disiplin, tidak saling mencurigai serta mempercayai pimpinan. Kita  harus tetap menjadi pagar dan pintu mata air bagi PT Freeport,” ungkapnya. (Acik)

Tinggalkan Balasan