Pilkada Berakhir, Persaudaraan di Tanah Amungsa Jangan Berakhir!



TAHAPAN pemungutan suara di Pilkada serentak telah selesai dilaksanakan kemarin Rabu (27/6). Dalam sebuah pertarungan Pilkada, ada yang menang dan ada yang kalah itu manusiawi. Namun setelah pertarungan itu berakhir, ternyata ada fakta terjadinya perkelahian dan bahkan sampai menumpahkan darah serta akhirnya menghancurkan tali persaudaraan, itu yang tidak manusiawi.

Saat ini pihak KPU Mimika sedang bekerja untuk merekapitulasi suara dan nantinya menentukan pasangan yang berhak memimpin Kabupaten Mimika untuk lima tahun ke depan. Setiap personel yang berada di gerbong KPU Mimika harus sungguh-sungguh menjaga keabsahan setiap kotak suara yang masuk. Jangan sampai ada kotak suara yang sengaja dimanipulasi oleh oknum-oknum tertentu dan akhirnya lolos masuk dengan leluasanya ke KPU. Setiap aparat keamanan pun harus membantu KPU untuk maksud tersebut.

Pihak KPU pun diminta untuk tidak terlibat dalam manipulasi suara untuk memenangkan Paslon tertentu. Proses rekapitulasi suara di KPU harus transparan dan jujur. Setiap person di KPU jangan menjadi oknum penghancur demokrasi di Mimika.

Panwaslu Mimika juga harus bekerja ekstra secara transparan dan tidak tebang pilih dalam memperhatikan serta memproses jika ditemukan berbagai pelanggaran pada saat pelaksanaan Pilkada kemarin. Panwaslu Mimika diharapkan tidak dipengaruhi dengan berbagai permainan dan atau manipulasi Paslon tertentu serta timsesnya yang jika memang ternyata ditemukan melakukan kecurangan. Apalagi pihak Panwaslu akhirnya menerima “uang haram” untuk menutup mata dan mulut atas fakta pelanggaran yang benar-benar ada bukti konkrit di lapangan. Yang salah tetap harus diproses dan kemudian dihukum.

Intinya, Mimika harus buktikan bahwa Pilkada kali ini bersifat Luber Jurdil…

Perlu diberi apresiasi kepada seluruh masyarakat Mimika yang telah menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin bagi dirinya dan bagi Kabupaten Mimika. Pastinya, apresiasi itu hanya dikhususkan bagi pemilih yang benar-benar menghargai “martabat” suaranya berdasarkan hati nuraninya dan bukan karena dipengaruhi oleh uang, sembako bertendensi jahat, “serangan fajar”, “serangan calon yang hadir di TPS” dan hal-hal lain yang turut merusak demokrasi.

Namun kita perlu mengetahui bahwa demokrasi di masa reformasi Indonesia saat ini sedang mempersilahkan setiap orang untuk “mengumbar” kehendaknya sebebas-bebasnya. Hal itu akhirnya berdampak pada kerusakan peradaban antar sesama di bangsa ini. Artinya, warga bangsa terlalu sering menyampaikan pendapat dan tindakannya di ranah publik tanpa lagi memperhatikan nilai-nilai etika dan estetika. Dirinya menganggap, yang penting berkomentar dan atau bertindak sesuka hati tanpa lagi mempedulikan orang-orang di sekelilingnya terluka dan sakit hati serta bahkan akhirnya bersimbah darah dan merenggut nyawa.

Wahai warga Mimika… Kita harus bisa memperbaiki potret hitam dari demokrasi Indonesia tersebut.

Secara khusus, proses pemilihan sudah dilaksanakan. Tugas warga Mimika pun telah selesai pasca pemberian suaranya di TPS. Persaingan antar warga yang berbeda pilihan dan dukungan pun harusnya telah berakhir.

Sangat diharapkan setiap masyarakat agar tidak bertindak anarkis yang berujung pada perkelahian, baik duel maupun massal, termasuk juga “perang dingin” di dalam keluarga. Sehingga akhirnya merusak tali persaudaraan yang selama ini telah terjalin. Jika memang ada temuan pelanggaran Pilkada, biarlah itu diselesaikan dalam jalur yang telah ditetapkan dalam UU Pilkada.

Pihak Paslon dan timsesnya yang akhirnya dinyatakan kalah oleh KPU Mimika, mohon untuk tidak melakukan politik adu domba. Jangan marah dan menyalahkan tanpa dasar yang jelas lantas kemudian mengerahkan massa hingga akhirnya menimbulkan konflik horizontal yang tajam dan mencekam di tengah masyarakat. Mohon jangan merusak peradaban di Mimika, di tanah Amungsa yang kita cintai ini.

Bagi Paslon yang menang, jangan juga sontak termakan euforia kemenangan dan lupa daratan. Buktikan ke masyarakat Mimika tentang “kata-kata manisnya” pada saat kampanye dan milikilah hati untuk rakyat demi membangun Mimika yang semakin baik ke depan. Jadilah pemimpin yang bisa mengayomi semua pihak, termasuk “berani” merangkul rival politiknya di kursi pemerintahan. Sebab pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang membangun persaudaraan bukan permusuhan atas warganya. Kitorang samua bersaudara... Salam! (Jimmy Rungkat)

Tinggalkan Balasan