Kasus Illegal Logging Bintuni Disinyalir Berhenti Tengah Jalan, BB Tak Ada Lagi di Mapolda

Kasus Illegal Logging Bintuni
Kasus Illegal Logging Bintuni
Kasus Illegal Logging Bintuni – Sejumlah Barang Bukti (BB) kendaraan baik dump truk roda 6 maupun truk roda 10 yang sempat disita dan diamankan di Mapolda Papua Barat seat awal pengusutan kasus ini beberapa bulan lalu, saat ini sudah tak terlihat lagi di halaman belakang Mapolda Papua Barat. (Foto: Kris Tanjung/PBOKe)
Manokwari, Papuabaratoke.comKasus Illegal Logging Bintuni.  Penyelidikan dan pengungkapan kasus dugaan illegal logging atau penebangan hutan secara illegal di Kabupaten Teluk Bintuni yang beroperasi sejak bulan September 2017 hingga Februari 2018 lalu, oleh Nurhasana Karya Abadi milik HA tersiar kabar berhenti di tengah jalan.

Kasus Illegal Logging Bintuni.  Faktanya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Papua Barat hingga kini belum mampu mengungkap dan menetapkan siapa dalang yang patut ditetapkan sebagai tersangka dibalik kasus tersebut.

Selain itu, sejumlah barang bukti (BB) kendaraan baik dump truk roda 6 maupun truk roda 10 yang sempat disita dan diamankan di Mapolda Papua Barat seat awal pengusutan kasus ini beberapa bulan lalu, saat ini sudah tak terlihat lagi di halaman belakang Mapolda.

Dan kasus ini telah memasuki 4 bulan pasca penyelidikan dan terendus publik terkait dugaan pembalakan liar hutan di KM 14 Taroy, Kampung Wesiri Kabupaten Teluk Bintuni, Minggu pertama di bulan Maret tahun 2018.

Tak hanya itu, sejumlah BB lain, seperti kayu olahan, kayu log, alat berat eskavator, yang sebelumnya diamankan sudah tak terlihat lagi.

Namun hal ini dibantah oleh Dirreskrimsus Polda Papua Barat, Kombes Pol Budi Santosa, kepada awak media, Senin (9/7/2018). Dia mengatakan, terkait hal ini pihaknya masih akan melakukan sejumlah agenda pemeriksaan guna melihat sejauh mana dugaan keterlibatan pihak instansi teknis atas pihak perusahaan dalam melakukan pengawasan monitoring pekerjaan terkait.

“Jadi kita akan periksa lagi saksi ahli dan oknum pegawai dinas kehutanan Teluk Bintuni. Karena ditemui ada bukti baru adanya hubungan kerjasama antara 2 perusahaan dan salah satu pihak pengelola kayu olahan berdasarkan ijin yang dikeluarkan dari dinas terkait, dalam tanda kutip pejabat saat itu sebelum dinas tersebut dilebur atau dikembalikan kepada pihak Pemerintah Provinsi dan di tingkat kabupaten hanya sebagai UPTD,” jelasnya.

“Memang kita mau periksa dulu lagi saksi ahli dan ada oknum dinas kehutanan terkait. Saksi yang mengetahui adanya kerjasama antara pihak dinas tersebut dengan pihak perusahaan pengelolaan kayu industri primer di Bintuni,” tambah Budi.

Dicecar tentang penetapan tersangka oleh pihak penyidik, Budi menjelaskan, pihaknya hanya mengikuti proses aliran ranah penyidikan sesuai dengan ketentuan aturan yang ada sehingga jika terdapat bukti adanya keterkaitan oknum – oknum tertentu saat gelar perkara fakta penetapan tersangka dapat sesuai.

“Saya pada intinya tidak mau berandai – andai dan tetap jalan. Karena ada petunjuk lainnya keterlibatan terhadap jalannya kasus ini. Makanya saya harus hati-hati dan tidak mau ambil resiko. Mengingat ada terungkap lagi bukti petunjuk lainnya,”jawab dia.

Sebelumnya atas pengembangan kasus ini, sesuai penuturan Kasubdit Tipiter (Tindak Pidana Tertentu) Dit Reskrimsus Polda Papua Barat, AKBP Junof Siregar kepada wartawan di Mapolda menuturkan, telah terdapat 12 saksi yang dimintai keterangan, termasuk dua pemilik perusahaan, PT Nur Hasanah Karya Abadi dan PT Kharisma Chandra Kirana, pada Jumat (16/3/2018) lalu.

Baca Juga:  Kasus Illegal Loging di KM 14 Bintuni Diperuncing, Penyidik Periksa Kadis PUPR

Dimana penyidik telah memeriksa pemilik atau direktur PT Nur Hasanah Karya Abadi bernisial HA. Diduga kuat pembalakan liar di Bintuni ini memanfaatkan pembangunan jalan menuju Kampung Taroi sejak September 2017 hingga terungkap 12 Februari 2018.

Polisi juga menemukan jalan alat berat yang melakukan penebangan kayu jenis merbau. Barang bukti yang diamankan penyidik di lokasi pembangunan jalan diantaranya 5 unit dump truk, 1 truk, 2 unit alat berat axcavator miliki PT Nur Hasanah Karya Abadi. Sedangkan di lokasi industri kayu PT Kharisma Candra Kencana, polisi menyita 132 palet kayu olahan panjang 4 meter, 92 palet kayu olahan panjang campuran, 17 barang kayu log panjang 4 meter, 3 batang kayu log panjang 3 meter dan 2 batang kayu log panjang 2 meter.

Penulis : Adrian Kairupan
Editor : Kris Tanjung

The post Kasus Illegal Logging Bintuni Disinyalir Berhenti Tengah Jalan, BB Tak Ada Lagi di Mapolda appeared first on PapuaBaratOKe.Com.

Tinggalkan Balasan