Papua Dan Papua Barat Satukan Visi Pembangunan

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.(Foto-N.new)

SAPA (MANOKWARI) - Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat bersepakat menyatukan visi pembangunan yakni mewujudkan Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari, dan Bermartabat.

Kesepakatan itu tertuang dalam Deklarasi Manokwari yang dibacakan dan ditandatangani pada penutupan Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati Ekowisata dan Ekonomi Kreatif, di Manokwari, Rabu (10/10).

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan, konferensi ini menjadi awal dari pekerjaan besar di Tanah Papua.

Menurutnya, tugas besar yang harus segera diselesaikan antara lain Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Pembangunan Berkelanjutan di Papua Barat, dan Perdasus pengakuan Hak Masyarakat Hukum Adat serta penyelesaian revisi Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

"Juga revisi proses pemberian perizinan konversi lahan, dan kalau dianggap perlu menyusun perdasus untuk mengatur pemberian izin konversi lahan yang melibatkan masyarakat pemilik lahan," kata Gubernur pula.

Menurutnya, Deklarasi Manokwari merupakan dasar dan arahan utama dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Ia mengajak semua pihak yang terlibat di dalam konferensi bekerjasama mengimplementasikan seluruh rekomendasi pertemuan empat tahunan tersebut.

Dominggus menyambut baik salah satu poin kesepakatan dalam deklarasi ini, yakni pembangunan museum sejarah alam dan kebun raya di Tanah Papua. Keberadaan museum untuk menunjang upaya konservasi.

"Museum akan menjadi penampungan koleksi, penelitian, dan peningkatan pemahaman maupun apresiasi tentang keanekaragaman hayati dan alam dan budaya Papua," ujar Mandacan.

Pendirian fasilitas edukasi tersebut diyakini dapat menjadi salah satu instrumen pendukung pembangunan berkelanjutan yang dikumandangkan kedua provinsi.

Ketua dua Tim Kerja Internasional Conference on Biodiversity Ecotourism and Creative Economy-ICBE 2018 Keliopas Krey menyatakan museum akan menjadi bank data serta sarana edukasi terhadap hasil penelitian di Tanah Papua. Ke depan setiap kebijakan yang akan diambil pemerintah daerah dapat mengacu pada kajian-kajian ilmiah.

"Data-data yang selama ini sulit diakses dan tersebar di mana-mana itu bisa dihimpun di museum ini, sehingga semua siswa dari TK sampai perguruan tinggi bisa datang untuk akses informasi data-data koleksi spesimen dan budaya kita di museum ini," ucap dia lagi.

Museum, lanjut Krey, juga dapat memperkuat budaya meneliti di Tanah Papua, sehingga kekayaan Tanah Papua yang masih minim eksplorasi sebelumnya dapat terkuak dan dijadikan dalam satu wadah tersebut.

Pembangunan museum juga penting, mengingat Papua menyimpan 50 persen keanekaragaman hayati di Indonesia.

"Tapi kami harap ada juga regulasi yang akan mengatur pendanaan penelitian di Papua ini, karena urusan penelitian ini sering kesulitan dana," ujar Keliopas. (Ant)

Tinggalkan Balasan