Bersahabat dengan Waktu

Saat mentari datang, mereka membuka tangan memeluk setiap cahaya. Begitu pun ketika malam tiba, mereka tetap berpegang erat hingga datangnya pagi.

Satu persatu sahabat pergi, kini tinggal waktu yang menemani mereka menyongsong senja. Tangannya yang gesit itu masih terus bergerak. Lelah kadang menghantui benak, tetapi api itu tetap berkobar dalam diri.

Mereka tak kenal politik kotor para penyamun. Yang mereka tahu, setiap tetes keringat itu membawa berkah untuk dapur berukuran 1×2 itu.

Secuil berkat yang terlipat rapi dibawa lemari, jadi saksi bisu para sahabat waktu. Disaat yang sama, dibawa lemari para pemilik jas terus mengalir pundi-pundi “kehidupan” rakyat yang terampok oleh keserakahan.

Mereka mencaplok setiap kehidupan umat, tersenyum puas dibawa bendera kemunafikan. Dibalik kaca kau duduk berpangku tangan, terus melihat mereka di jalan sana yang terus bertengkar dengan waktu.

Akhirnya waktu akan menghantar karma itu didepan rumahmu. Kau akan tetap bertemu dan kembali memeluknya. Kau akan bersemayam didalam gubuk para pecundang.

Dan dibibir jalan sana, dengan kepalan tangan itu mereka akan terus menghancurkan tembok. Tembok yang menghalangi jalan menuju kebahagiaan. Pagi ini, kau keluar dan menatap fajar, tersenyum dan masuk menemui rindu.*

 

Penulis: Admin

Foto:  https://limbarup.wordpress.com

 

Tinggalkan Balasan