Rakyat Papua selalu mengenang perjuangan Feri Marisan

Mendiang Feri Marisan, aktivis HAM dan seniman Papua – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Anggota Komisi I DPR Papua Emus Gwijangge menyatakan belangsungkawa atas meninggalnya aktivis HAM yang juga seniman Papua, Ferdinand Marisan atau biasa disapa Feri Marisan, Sabtu (6/7/2019) dini hari.

Emus Gwijangge mengatakan, rakyat Papua tak akan melupakan perjuangan Feri Marisan dalam bidang hak asasi manusia. Perjuangan mantan Direktur Elsham Papua itu tidak dapat dinilai dengan apapun.

“Saya secara pribadi bersama keluarga, dan mewakili Komisi I DPR Papua menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Ferdinand Marisan. Keluarga yang ditinggalkan tetap tabah. Seperti yang tertulis dalam Alkitab perjanjian baru, Filipi 1:21 ‘karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” kata Emus Gwijangge saat menghubungi Jubi, Sabtu (6/7/2019) malam.

Menurut Emus Gwijangge, semasa hidupnya almarhum dikenal vokal menyuarakan hak-hak dasar orang asli Papua, dan masalah hak asasi manusia. Apa yang telah dilakukan Feri Marisan selama hidupnya, tentu akan dilanjutkan para aktivis lainnya.

“Feri Marisan tidak hanya aktivis HAM Papua, ia juga merupakan seniman Papua. Membawakan lagu-lagu Mambesak bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam grup musik Eyuser. Kami berduka karena almarhum termasuk mitra kerja kami,” ucapnya.

Sementara pengacara HAM Papua, Aloysius Renwarin mengatakan, sosok Arnold Ap salah satu musisi legendaris Papua, seakan terlahir kembali dalam diri Feri Marisan, pria kelahiran kampung Noribo, pulau Numfor, Kabupaten Biak Numfor pada 1971.

Feri Marisan menurut Alo Renwarin memiliki cara tersendiri dalam mengadvokasi kasus-kasus HAM di tanah Papua. Tidak hanya lewat laporan atau data, juga melalui musik (lagu).

Mendiang Fery Marisan, katanya, salah satu koordinator aksi demo pertama di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) pada Agustus 1995. Demo yang melibatkan sebanyak 800 mahasiswa se Kota Jayapura.

Demo tersebut merupakan yang pertama sejak 1969 di Kota Jayapura. Demo ini merespons laporan pelanggaran HAM berat kasua Bela dan Alama di sekitar areal PT Freeport Indonesia yang dilaporkan Uskup Herman Muninghoff.

“Sejak aksi demo 1995, almarhum langsung bergabung dengan Elsham Papua yang sebelumnya bernama Irian Jaya Peace and Justice hingga akhirnya bernama Elsham pada 1998,” ujarnya.

Almarhum Feri Marisan kata Alo Renwarin, pernah mendapat ancaman akan dibunuh, karena memberikan keterangan bahwa untuk membawa kasus HAM ke PBB butuh proses dan mekanisme yang sangat panjang.

“Pendapat itu langsung mendapat respons negatif sehingga mendapat ancaman,” kata Renwarin.

Ipar mendiang Feri Marisan, dr Trayanus Yembise mengatakan almarhum sudah lama menderita penyakit diabetes (gula darah), dan menyebabkan komplikasi.

“Sudah satu bulan lebih mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Abepura,” kata dr Trayanus Yembise.

Katanya, kini jenazah almarhum di semayamkan di rumah duka keluarga Pdt Yembise di kompleks Sekolah Tinggi Thelogia (STT) Is Kijne, jalan Trikora Abepura. (*)

 Editor: Edho Sinaga

 

The post Rakyat Papua selalu mengenang perjuangan Feri Marisan appeared first on JUBI.

Tinggalkan Balasan