Industri Petrokimia Bintuni Menyerap 3500 Tenaga Kerja

Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw (Foto-Antara)

SAPA (MANOKWARI) - Pengembangan Industri Petrokimia yang akan dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, diperkirakan dapat menyerap  3500 tenaga kerja.

Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw di Manokwari, Kamis mengutarakan, pemerintah daerah menyambut baik rencana investasi di daerah tersebut. Saat ini pihaknya sedang mengupayakan pembebasan lahan untuk pengembangan tahap pertama.

Pemerintah Teluk Bintuni telah menyiapkan lahan di wilayah Kampung Onar Baru Distrik Sumuri. Lebih dari 2 ribu hektar lahan disiapkan di lokasi tersebut untuk mendukung kawasan inti industri.

"Tidak lama lagi, kita akan memiliki kawasan industri petrokimia terbesar di Indonesia timur," kata Bupati

Untuk mendukung pembangunan tahap pertama, pemerintah daerah akan membebas lahan seluas 50 hektar. Saat ini sedang dalam proses dan bupati optimistis paling lambat Desember 2019 pembebasan lahan tersebut tuntas.

"Lahan di Distrik Sumuri ini seluruhnya merupakan wilayah adat milik satu suku. Suku Sumuri namanya, dan dialamnya terdapat 19 pemilik hak ulayat. Kita tentu harus berhati-hati dalam melakukan pembebasan lahan agar tidak menimbulkan persoalan," sebut Kasihiw lagi.

Pembayaran hak ulayat pada proses pembebasan lahan ini, lanjut Bupati, akan dianggarkan pada APBD Perubahan tahun 2019.

Untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) di daerah tersebut, lanjut Bupati,Pemkab Teluk Bintuni telah membangun pusat pelatihan tenaga Industri dan Migas. Pihaknya bekerjasama dengan Petrotehno Ciloto Bandung, Jawa Barat dalam mengelolanya.

"Sejauh ini sudah meluluskan dua angkatan dan saat ini masuk angkatan ketiga. Wisuda angkatan ketiga akan dilaksanakan seminggu kedepan," sebut bupati.

Ia mengungkapkan, ulusan dari pusat pelatihan tersebut sudah bekerja di sejumlah daerah di Indonesia, bahkan sebagian ada yang diterima di Malaysia dan Qatar.

"Pusat Pelatihan ini kita bangun untuk menyiapkan SDM bidang Industri Migas dari kalangan putra daerah. Selama ini tenaga skill yang bekerja di BP Tangguh kebanyakan didatangkan dari luar. Setelah Pusat pelatihan ini hadir, tenaga dari luar bisa dikurangi," katanya.

Terkait pengembangan industri Petrokimia ini Kasihiw pun berharap putra-putri Papua di daerah ini bisa mendominasi.

"Lulusan Pusat Pelatihan ini sudah terbukti memiliki skill dan mereka sudah mengantong sertivikat keahlian. Maka pada pengembangan Indistri Petrokimia ini anak-anak kami harus jadi prioriitas," kata Bupati.(Antara)

Tinggalkan Balasan