Membongkar Mafia Bisnis Purtier Placenta di Tubuh KPA Papua

Tulisan ini adalah hasil investigasi Tim Penyelamat KPA

Oleh: Benyamin Lagowan)*

 1. Jejak Transaksi Bisnis Purtier Placenta

Irene Caroline Rahantein dalam sebuah kegiatan pelatihan bertemakan: ”Organisasi dan Tata Kelola  (ORTALA) ” yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Papua bekerja sama dengan LINKAGED Indonesia di Hotel Traveller’s Sentani pada 2-4 Mei silam,  menuturkan bahwa dirinya pernah diperintah oleh ketua Harian KPA Papua untuk melepaskan (menjual) salah satu mobil milik KPA senilai 400 juta rupiah. Uang dari hasil penjualan kendaraan operasional KPA tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli produk Purtier Placenta pada PT. Riway Internasional. Namun, permintaan itu tidak terlaksana saat itu, karena Irene beralasan dirinya harus menghubungi dulu bendahara keuangan dan seseorang yang mengurus proses pembelian mobil dimaksud. Irene mengungkapkan peristiwa yang dialaminya sambil meneteskan air mata di sela-sela kegiatan di hadapan semua peserta pelatihan yang hadir saat itu. Irene adalah bendahara KPA Provinsi Papua dan sebenarnya bukan bendaraha sah. Seorang anggota KPA Provinsi Papua bernama Olla (nama singkat) adalah bendahara yang awalnya memegang kas KPA. Namun, entah karena alasan apa, pasca cairnya dana hibah KPA tahap I senilai 6 milyar dari pemerintah Provinsi Papua, posisi Olla digantikan mendadak oleh Irene. “Pergantian bendahara dilakukan oleh ketua Harian KPA”,  demikian tutur Ollah kala itu.

Setelah menelusuri beragam cerita yang diungkapkan oleh para aktornya sendiri secara langsung, maka diketahui bahwa upaya menggelapkan dana hibah KPA Papua dalam transaksi bisnis MLM ternyata bukan hanya terjadi sekali itu saja. Pada 21 Maret 2019 sebelumnya, telah terjadi transaksi pembelian Purtier Placenta oleh Yan Matuan–ketua Harian KPA Papua seharga Rp 976.752.000. Dana tersebut bersumber dari alokasi Dana Hibah Tahap 1 dari Pemerintah Provinsi Papua. Kala itu, ketika Yan Matuan akan melakukan transaksi pembelian Purtier Placenta, sebenarnya telah dicegah oleh wakil sekretaris KPA, I Bagus Kade. Hanya saja sempat terjadi kontak fisik yang menyebabkan I Bagus Kade terpaksa mengalah. Apalagi dirinya sadar bahwa ia bukan orang asli Papua ketika mendengar sindiran Yan Matuan:”memangnya kau siapa ?”  sesaat sebelum masuk ke Bank Papua untuk mentransfer sejumlah dana tersebut. Dana tersebut di atas dikirim ke no rekening PT. Riway Internasional melalui Bank Papua ke salah satu Bank di Surabaya, demikian tertulis pada slip penyetoran itu.

Laporan berikutnya berjudul, “Kronologis Transaksi Purtier Plasenta”  yang disusun oleh tim menyebutkan bahwa pada tanggal 1 Agustus 2019  terjadi lagi pembelian purtier placenta tahap 2 setelah adanya bukti transaksi transfer dari rekening Bank Papua milik KPA (Norek: 100011140 dst) kepada rekening atas nama PT. Riway Internasional (Norek: 142-001-213 dst) dengan nominal transfer sebesar 4.5 milyar rupiah. Dengan tujuan untuk pembelian /pembayaran obat Purtier Placenta tahap 2. Dalam bagian lain laporan tersebut, menyebutkan bahwa sekretaris umum, Fransiskus Ivakdalam  diduga merupakan sosok yang membuat surat kontrak kerja sama antara KPA Papua dengan PT. Riway Internasional. Fransiskus merupakan salah satu wajah lama KPA yang masih aktif sebagai anggota di bawah kepengurusan, Yan Matuan. Dalam kegiatan pelatihan yang pernah digelar di  salah satu Hotel di daerah Sentani, Fransiskus Ivakdalam adalah salah seorang pemateri yang  sambil menangis pernah menceritakan pengalamannya ketika berjuang membawa alat sirkumsisi (PrePex) dari Israel hingga tiba di Papua. Ia kala itu bercerita sembari menangis terharu atas perjuangan mereka (bersama drh.Costan Karma) ketika mendatangkan alat tersebut yang kemudian saat ini sudah tidak dipakai lagi karena mereka sendiri fokus pada urusan bisnis MLM tersebut.

Baca Juga: HIV/AIDS dan Setahun Perjalanan KPA Papua: Kritis! (Bagian I)

Usut punya usut, belakangan diketahui bahwa bisnis Purtier Plasenta yang kini untuk regio Papua diketuai oleh dr.John Manangsang merupakan salah satu jenis produk makanan  tambahan berupa supplement yang berada di bawah perusahaan PT. Riway Internasional. Suplemen Purtier diklaim (tanpa bukti medis) sebagai obat/suplemen yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis, termasuk HIV-AIDS. Namun, yang berbeda dari suplemen ini, dikemas dan dijual menggunakan sistem pemasaran Multi Level Marketing (MLM), dimana dalam sistem ini, akan ada benefit (keuntungan/laba) bagi anggota yang bisa memasarkan lebih banyak produk dan bisa merekrut banyak anggota baru. Maka jelaslah, bahwa dalam sistem pemasaran produk MLM ini akan memberikan banyak keuntungan dan posisi yang mantap seiring dengan banyaknya seorang anggota menjual produk tersebut dan mampu merekrut sebanyak mungkin anggota baru (new member). Kenaikan posisi member akan terjadi secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggota masing-masing. Maka tidak heran jika ketua harian KPA Papua menjadi member yang dikemudian  hari akhirnya merekrut sejumlah pengurus bahkan anggota KPA lainnya untuk didaftar sebagai member pada jaringan bisnis tersebut. Entah berapa milyar yang telah dipakai untuk transaksi ini dan berapa benefit yang  telah diboyong  oleh ketua Harian KPA Papua  tidak ada yang tahu.

  1. Para Member Bisnis MLM KPA

Berdasarkan Data Tim Penyelamat KPA Papua, terdapat sejumlah pengurus inti bersama staf KPA Papua yang sudah terdaftar sebagai member bisnis Purtier Placenta yakni Yan Matuan (Ketua Harian KPA), Irene Caroline Rahantein (Bendahara), Franki Ivakdalam (Sekretaris), Bernie Pagawak (Kord.Divisi SDM), Herman Yoku (Sekretaris II), Anias Lengka (Anggota Divisi Kampanye), Obeth Wamu (Anggota Divisi Kerohanian),  Jeerd Pieter Yoku (Kord. Divisi Kerohanian), Seppy Uyo (Anggota Divisi Kerohanian), Ruth Awi (Kord. Divisi Penyelamatan KPA), Simon Nuburai (Anggota Divisi Kampanye) dan Claus C. Rumayom (Anggota Divisi SDM). Setidaknya terdapat  lebih  dari 11 orang KPA yang telah diketahui menjadi Member dari bisnis MLM Purtier Placenta itu.  Diperkirakan hampir semua anggota KPA ini diregistrasi sebagai member menggunakan dana KPA tahap 1 dan 2.

Dalam prosesnya, para member ini akan berusaha menjual produk suplemen purtier kepada konsumen baru. Dan apabila tidak terdapat konsumen, maka para member kerapkali mau tidak mau akan melakukan transaksi pembelian guna mendorong naiknya pangkat yang berakhir pada penerimaan penghargaan dan keuntungan baginya. Pada kondisi semacam inilah yang dikhawatirkan telah mendorong pengurus KPA Papua mengeluarkan banyak dana untuk mendapatkan bonus dan bintang (stars). Sebagai contoh, dalam sebuah percakapan group WhatsAp yang berjudul: WAG Riway KPA Papua, Ketua KPA Papua tampak menawarkan produk Purtier Placenta kepada anggota group tersebut. Demikian bunyi percakapan yang diperoleh tim investigasi ini: “Promo Riway Internasional 1-25 Desember 2019. 1 Paket= 7 Botol+ free 3 Botol= 10 Botol Rp. 34.884.000. Note: Capai Diamond 1 bintang, akan dipromosi menjadi 2 bintang. Ini promo luar biasa bapak/ibu yang 2 stars (bintang) jangan lewatkan kesempatan emas ni. Maju dan berjuang selamatkan yang sisa dari yang tersisa.”

Baca Juga: HIV-AIDS dan Setahun Perjalanan KPA Papua: Kritis! (Bagian 2/Habis)

Demikian Tulis Yanuel Matuan dalam percakapannya didalam WAG tersebut. Jika diamati, Yanuel Matuan atau Yan Matuan dalam percakapan itu telah secara langsung melakukan promosi pembelian Purtier terhadap anggota WAG itu. Dalam postingannya, sangat jelas menunjukkan bahwa terdapat target penjualan dan pembelian yang harus dipasarkan oleh semua member bisnis dimaksud. Dan apabila berhasil menjual banyak produk maka akan diberikan kenaikan pangkat (bintang). Dengan demikian, sangat jelas bahwa hipotesis yang dapat kita tarik. Semakin banyak transaksi purtier yang dilakukan oleh oknum pengurus KPA tersebut, maka kemungkinan keuntungan mereka semakin besar. Nah, pertanyaanya adalah: akan dikemanakan keuntungan yang diperoleh dari hasil pencapaian stars yang semakin tinggi itu?  Dan setelah melakukan pembelian produk tersebut secara kelembagaan mengatasnamakan KPA, apakah purtier tersebut dibagikan secara gratis kepada masyarakat? Tanpa tawaran dan promosi jadi member dsb?

  1. Modus Pendekatan Awal PT.Riway Internasional

Secara runut, kontak pertama pengurus KPA Papua dengan PT. Riway diperkirakan terjadi sejak  ketua KPA Papua bercengkerama dengan dr. John Manangsang dalam  sebuah group  WhatsApp (WA). Kemudian dari pembicaraan itu melahirkan pertemuan pertama di Kantor KPA Papua pada 10 Januari 2019–beberapa bulan sebelum cairnya dana Hibah KPA Papua. Dilanjutkan dengan pertemuan malam harinya di Hotel Sahid dalam acara “Dinner Sharing Member PT. RIway” dimana Dokter John Manangsang menjadi pembicara utamanya. Dalam acara tersebut ditampilkan beberapa penderita HIV-AIDS yang mengaku dan bersaksi bahwa obat Purtier Placenta yang dipromosikan oleh dokter John mampu menyembuhkan banyak penyakit di antaranya Kanker, Diabetes dan juga HIV-AIDS. Saat itu, PT. Riway menampilkan seseorang bernama Ribka Pagawak dengan testimoni bahwa dirinya telah sembuh dari HIV-AIDS dengan mengonsumsi obat Purtier Placenta.

Selanjutnya pertemuan berikutnya terjadi pada 11 Januari 2019 di Aula KPA Papua dengan agenda yang sama yakni presentasi ulang manfaat Purtier Placenta oleh dr. John Manangsang. 5 hari berikutnya, tepatnya 16 Januari 2019, dr. John Manangsang bersama Ketua KPA menghadiri sebuah acara PT. Riway di Jakarta. Kemudian  seminggu sesudahnya, tepatnya tanggal 21 Januari pertemuan dan promosi Purtier kembali dibawakan dalam acara pembekalan informasi dasar HIV-AIDS di kantor KPA Papua. Dan pada 28 Januari kembali lagi dipresentasikan dalam kegiatan pembekalan terhadap calon relawan di Hotel Enang Sentani Kabupatan Jayapura. Selanjutnya tidak lama berselang pada 15 Februari 2019 pertemuan bersama dr.John Manangsang terjadi lagi di Museum Expo Waena dalam suatu KKR yang dihadiri oleh 1500 an orang. Dalam kesempatan itu, hadir Gubernur Papua dan pendekatan lebih intens dan penggiringan untuk pembelian produk PT. Riway, menurut laporan tim terjadi saat acara tersebut. Berangkat dari keberhasilan promosi intens dari waktu ke waktu, maka  pertemuan lainnya terjadi pada  7 Maret di Auditorium Uncen dalam acara KKR yang sempat diwarnai protes oleh salah satu calon relawan KPA yang meminta dr. John menghentikan promosi purtier placenta itu.

Berdasarkan mulusnya pendekatan-pendekatan yang telah terjadi tersebut, maka secara eksplisit beberapa hari setelahnya melalui media www.papuasatu.com, ketua harian KPA menegaskan keinginannya untuk memboyong produk Purtier Placenta. Bahkan dalam berita tersebut, ia  membeberkan akan membeli Purtier Placenta seharga 1.4 Milyar untuk para ODHA menggantikan kedudukan obat Anti Retro Viral (ARV) yang selama ini dikonsumsi oleh para ODHA. Sebagai responnya kala itu muncul penolakan dan kritikan dari para ODHA yang dipimpin oleh Amanda Wally Cs. Akhirnya tercipta pertemuan pada 14 Maret antara Amanda Wally dkk bersama ketua KPA di Aula Hotel Enang Sentani. Pasca pertemuan tersebut,para ODHA itu diperkirakan menerima promosi dan rencana pembelian Purtier Placenta yang diwacanakan sebab beberapa minggu sesudahnya telah ada beberapa ODHA yang beralih konsumsi ARV ke Purtier Plasenta.

  1. Partisipasi Nasional dan Internasional Para Bisnisman KPA

Sejak dicairkannya dana KPA Papua oleh pemerintah Provinsi Papua, maka sejak itu juga telah terjadi beberapa kali keberangkatan Ketua Harian KPA Papua ke luar Papua hingga luar negeri. Tujuan utama perjalanan lebih pada kegiatan bisnis bukan untuk kepentingan HIV-AIDS sebagaimana lazimnya. Pada 16 Januari 2019 bersama dr.John Manangsang ketua KPA Papua berangkat ke Jakarta menghadiri  pertemuan bisnis PT.Riway Internasional. Keberangkatan pertama ini kemungkinan dibiayai oleh dr. John Manangsang. Berikutnya pada 10-12 April Ketua KPA Papua dikabarkan berangkat ke Singapura melalui Batam bersama keluarganya untuk mengikuti acara bisnis PT. Riway yang digelar di Singapura dengan menggunakan pagu anggaran perjalanan Dinas KPA Papua. Kemudian pada 15-19 Agustus beberapa anggota KPA bersama ketua harian KPA bertolak ke Vietnam/Thailand dalam rangka menghadiri acara penganugerahan penghargaan. Dalam perjalanan keluar daerah yang dilakukan oleh anggota dan pengurus KPA Papua ini, diperkirakan menggunakan pagu anggaran KPA dan benefit yang diperoleh dari keanggotaan mereka hanya dengan tujuan  utama selayaknya seorang Bisnisman yang hasilnya masuk kantong pribadi. Demikian tampak dari foto-foto yang disebarkan luar di media sosial, dimana semua anggota KPA yang menjadi member mengenakan stelan jas hitam lengkap dengan dasi. Selayaknya pengusaha kelas kakap yang memiliki aset milyaran di Papua.

  1. Bisnis Ilegal Yang Mengatasnamakan Kemanusiaan

BP POM  melalui teras.id pada 13 Mei lalu menyatakan bahwa supplemen yang bernama purtier memang sudah didaftarkan sebagai suplemen di POM. Bukan yang bernama Purtier Placenta. Maka jika ditemukan penyebaran produk yang bernama Purtier Placenta dapat dilakukan penindakan karena dianggap Ilegal. “Jadi untuk suplemen Purtier adalah produk yang legal sedangkan untuk suplemen dengan nama purtier placenta adalah produk ilegal,” dikutip dari berita teras.id itu. Lantas hal yang sama juga diungkapkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua dan Dinas Kesehatan Papua yang tetap menyarankan agar masyarakat tetap mengonsumsi ARV sebagai terapi utama bagi ODHA.

Berdasarkan  keterangan pihak berwenang ini, sebenarnya  jelas dan patut diketahui bahwa produk Purtier Placenta yang dikemas dalam bentuk bisnis MLM ini adalah produk ilegal dan sarat akan bisnis yang menguras sumber anggaran KPA yang kecil. Lantas, untuk apa dan mengapa pengurus KPA Papua bersama pengurus lainnya masih tetap mau membeli produk MLM tersebut. Padahal KPA secara kelembagaan mestinya menghargai pandangan lembaga lain sebagai mitranya. Dalam kasus ini, kemungkinan besar para pebisnis MLM di tubuh KPA Papua ini tetap tidak mau berpaling dari zona nyaman dan kenikmatan bonus yang didapatkan dari PT.Riway Internasional selama ini. Tanpa sedikitpun membuka hati dan pikiran serta nurani, para bisnisman ini tetap bermain judi mengesampingkan penderitaan dan kesakitan para ODHA se-tanah Papua yang sangat butuh tindakan konkret untuk penyelamatan. Mereka keasyikan mengobjekkan para ODHA demi kepentingan dan fullnya sakunya masing-masing.

Perilaku-perilaku semacam ini adalah suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia nyata yang dilakukan oleh pengurus KPA saat ini dengan mengobjekkan ODHA dan menyalahgunakan kewenangan dan anggaran hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Dengan mengamati gelagat mereka saat ini, semakin jelas bahwa bagi mereka  istilah “selamatkan sisa dari yang tersisa” mengandung arti bahwa yang harus diselamatkan bukan manusia (ODHA) tetapi menyelamatkan sisa uang yang tersisa dari kepemimpinan periode ke-2 Gubernur Papua  ini.  Bukankah begitu ?

Selamat Menyongsong Natal!

)* Penulis Adalah Anggota Non Aktif Divisi Program dan Monev  KPA Papua Periode 2019-2023

Tinggalkan Balasan